Resep ikan Pindang masak ala Sarden

     Terkadang, suami saya,  eh saya juga ding kalo lagi kumat “bandel”nya, maksud saya choosing processed-food over a natural one, secara refleks akan memasukkan mie instan dan sarden kalengan ke dalam trolly belanja kami 😀. Suami saya suka sekali makan nasi panas plus ikan sarden tersebut yang telah saya beri rajangan bawang putih, bawang merah, cabai rawit, serta a handful of tomato. Sedap kan?. Namun, ada baiknya jika ingin benar-benar berkomitmen terhadap resolusi hidup sehat, maka ikhlaslah untuk sedikit repot di dapur dan mulai memasak makanan kita sendiri dari bahan-bahan yang segar. Yup, bahan yang kita beli sendiri, sehingga kita tahu kesegarannya masih baik atau tidak. Dan kita juga tidak perlu memasukkan bahan-bahan yang tidak diperlukan tubuh, seperti zat pengawet, pewarna, dsb. Ayolah, ini hanya perlu kira-kira 30 menit saja untuk memasak resep ikan pindang ini. Masih lebih lama jika kita nonton TV bukan?. Resep dibawah ini adalah hasil eksperimen saya berkali-kali secara tidak sengaja karena ingin menghabiskan sambal tomat yang saya buat.

1170281_1516350691995073_199119528_n

Ikan Pindang masak ala sarden

Continue reading

Advertisements

Wander-Ask-Repeat & BNI Blogging Competition #AskBNI

WANDER – ASK – REPEAT

      Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika saya berada di China untuk Training. Berada di kota tingkat prefektur Huainan, provinsi Anhui pusat, yang berbatasan dengan ibukota provinsi Hefei ke selatan , Lu’an ke barat daya , Fuyang ke barat , Bozhou di barat laut, Bengbu ke timur laut dan Chuzhou ke timur. Hari itu kelas usai pada jam 5 sore. Terasa melelahkan, menjemukan, dan membuat saya malas mengayunkan langkah.

        Hingga akhirnya suara yang sudah sangat saya kenal saya dari belakang, “Hei kesini masuk kamarku cepetan!” suara Dian, my only partner in crime selama masa Training.  Masih agak malas untuk menoleh, namun sepertinya Dian begitu excited. Tanpa pikir panjang, akhirnya saya pun menurutinya untuk masuk ke dalam kamarnya. Bertanya-tanya saya dalam hati. Kemudian saya melihat Dian tengah asyik menatap layar laptop mungilnya sembari pasang wajah serius dan kemudian ia memulai pembicaraan, “Eh, mau ke Great Wall gak?”. Seketika juga saya kaget, senang, tapi juga bercampur dengan kebingungan-kebingungan. Saya bingung bagaimana bisa kami pergi ke Great Wall, sedangkan pada agenda Training, acara jalan-jalan kesana tak tertulis. Saya menimpali, “Emang bisa? Yakin diijinin kita cewek-cewek berdua jalan ke tempat yang kita gak kenal siapa-siapa?” tanya saya skeptis. “Beres, bisa diatur!” jawab Dian mantap dengan senyum menyeringai.

Continue reading